3 Des 2019

Menjadi Pemimpin, Belajar Makna dari Lagu Gundul-Gundul Pacul

Lirik tembang lagu Gundul-gundul Pacul
Ilustrasi dengan lirik tembang lagu Gundul-gundul Pacul

Menjadi Pemimpin, Belajar Makna dari Lagu Gundul-Gundul Pacul

Gundul-gundul pacul cul, gembelengan 
Gundul berarti kepala plontos tanpa rambut (botak). Kepala merupakan lambang kehormatan, kemualiaan seseorang, sementara rambut merupakan mahkota diatasnya, yang menunjukan keindahan. Maka gundul berarti kehormatan tanpa mahkota.

Pacul dalam bahasa Jawa memiliki arti cangkul petani yang terbuat dari lempeng besi berbentuk segiempat. hal ini melambangkan seseorang yang sederhana. Orang jawa sendiri kerap mengartikan pacul sebagai papat kang ucul (empat yang lepas) yang mengandung arti, kemuliaan seseorang sangat tergantung kepada empat hal, yaitu bagaimana menggunakan alat indra mereka yakni mata, telinga, hidung, dan mulut. Jika empat hal tersebut lepas, maka lepaslah kehormatan seseorang.

Gembelengan bermakna besar kepala atau sombong. Dalam lagu ini mengandung makna bahwa seseorang apabila sombong, besar kepala dan bermain-main dalam menggunakan kehormatannya sebagai seorang pemimpin maka ia akan mengalami celaka. Mereka harus memahami bahwa jabatan dan kehormatan tersebut merupakan amanah rakyat.

Dalam lirik gundul-gundul pacul-cul gembelengan mengandung makna pemimpin yang lupa bahwa dirinya sedang mengemban amanah dan tanggung jawab, namun dirinya malah menggunakan kekuasaan dan kemuliaannya dengan bermain-main (gembelengan), menggunakan kedudukannya untuk berbangga-bangga diantara manusia, dan menganggap kekuassan itu karena kepandaian dirinya sendiri.

Nyunggi-nyunggi wakul-kul, gembelengan
Nyunggi wakul bermakna membawa wakul (tempat nasi) diatas kepalanya. Namun banyak pemimpin yang lupa bahwa dia mengemban amanah penting yaitu membawa bakul dikepalanya. Wakul merupakan simbol kesejahteraan rakyat. dimana kekayaan negara, sumber daya, pajak, dan kekayaan lainnya. artinya bahwa kepala yang merupakan kehormatannya berada di bawah bakul miliki rakyat.
kedudukan terletak dibawah bakul rakyat. jadi siapakah yang lebih tinggi kedudukannya, pembawa bakul atau pemiliki bakul? tentu saja pemiliki bakul. Ingatlah bahwa pemimpin disini diabaratkan sebagai pembawa bakul yang merupakan pembantu si pemiliknya (pemilik bakul: rakyat). Namun dalam kehidupan masih banyak, kita temui pemimpin yang gembelengan, melenggak-lenggokan kepalanya dengan sombong dan bermain-main.

Wakul ngglimpang segane dadi sak latar,  
Wakul ngglimpang berarti bakul yang berada diatas kepala jatuh. Segane dadi sak latar berarti nasi yang menjadi isi didalam bakul tersebut jatuh dan berantakan kemana-mana. akibatnya bakul terguling dan nasinya tumpah kemana-mana.

Jika pemimpin sombong, jumawa, bermain-main, maka sumber daya akan tumpah kemana-mana. dan tidak akan terdistribusi dengan baik. Sehingga akan menyebabkan kesenjangan dimana-mana. Nasi yang tumpah di tanah tidak akan bisa dimakan lagi karena sudah kotor. sehingga amanahnya akan jatuh dan tidak akan dipertahankan. menjadikan kepemimpinan sia-sia. maka gagalah tugasnya mengemban amanah rakyat.

Jadi secara keseluruhan lagu ini merupakan komitmen manusia untuk dapat bekerja dengan bertanggung jawab serta amanah. Ketika masih kecil (kanak-kanak) hal tersebut masih wajar. Namun ketika telah dewasa, bukan lagi saatnya bermain, tidak boleh sombong dan jumawa yang akan mengakibatkan masalah yang besar. Terlebih ketika seseorang telah mengemban amanah serta tanggung jawab.

Lagu ini dititipkan kepada anak-anak untuk dinyanyikan dalam setiap permainannya mengandung maksud agar abadi, dan tertanam didalam karakter anak-anak hingga dewasa nantinya.

Artikel Terkait

"Jangan pernah berhenti belajar, karena hidup tak pernah berhenti mengajarkan."


EmoticonEmoticon