28 Nov 2019

Belajar dari Makna Lagu Lir Ilir – Sunan Kalijaga

Belajar dari Makna Lagu Lir Ilir


Lir ilir lir ilir tandure wong sumilir, tak ijo royo royo
Tak sengguh panganten anyar
Cah angon cah angon penekna blimbing kuwi
Lunyu lunyu penekna kanggo mbasuh dodotira
Dodotira dodotira kumintir bedah ing pinggir
Dondomana jrumatana kanggo seba mengko sore
Mumpung padang rembulane, mumpung jembar kalangane
Sun suraka surak hiyo
Lir ilir lir ilir tandure wong sumilir, tak ijo royo royo
Tak sengguh panganten anyar
Cah angon cah angon penekna blimbing kuwi
Lunyu lunyu penekna kanggo mbasuh dodotira
Dodotira dodotira kumintir bedah ing pinggir
Dondomana jrumatana kanggo seba mengko sore
Mumpung padang rembulane, mumpung jembar kalangane
Sun suraka surak hiyo

Belajar dari Makna Lagu Lir Ilir – Sunan Kalijaga - Melalui syair lagu Lir ilir Sunan Kalijaga mengingatkan kepada kita sebagai orang-orang yang beragama Islam untuk segera bangun dan bergerak. Karena saatnya telah tiba. Bagaikan tanaman yang telah siap menerima petunjuk dan ajaran Islam dari para wali.

Hijau merupakan simbol warna kejayaan agama Islam, dan agama Islam digambarkan sebagaimana pengantin baru yang menarik hati siapapun yang sedang melihatnya, serta selalu membawa kebahagiaan bagi orang-orang disekitarnya.

Kemudian, yang disebut anak gembala adalah pemimpin. Dan buah belimbing merupakan buah bersegi lima, yang menggambarkan simbol dari lima rukun Islam dan shalat lima waktu. Para pemimpin diperintahkan oleh Sunan kalijaga untuk memberi contoh kepada rakyatnya dengan menjalankan ajaran Islam secara baik dan benar, yaitu dengan menjalankan lima rukun Islam dan shalat lima waktu.

Dodot adalah sejenis kain kebesaran orang jawa yang hanya digunakan pada setiap upacara besar. Dan pada waktu dahulu buah belimbing sering digunakan sebagai pencuci kain karena kandungan asamnya, terutama untuk merawat kain batik agar tetap awet.

Melalui kalimat ini Sunan Kalijaga memerintahkan orang Islam untuk tetap berusaha menjalan lima rukun Islam dan shalat lima waktu walaupun banyak rintangan. Semua itu diperlukan untuk menjaga kehidupan beragama mereka.

Karena, agama itu seperti pakaian bagi jiwanya. Walaupun bukan sembarang pakaian biasa. Lunturnya nilai-nilai moral telah menyebabkan banyak orang meninggalkan ajaran luhur dari agama, sehingga kehidupan beragama mereka digambarkan seperti pakaian yang telah rusak atau robek.

Seba artinya menghadap orang yang berkuasa atau raja. Dalam hal ini sunan Kalijaga memerintahkan agar orang-orang memperbaiki kehidupan beragamanya yang telah rusak dengan cara menjalankan ajaran agama secara baik dan benar, sebagai bekal menghadap Allah SWT dihari nanti.

Hemat kata, dari syair tersebut kita banyak memahami bahwa kita harus terus belajar dan berusaha untuk memperbaiki diri menjadi pribadi yang lebih baik.

Artikel Terkait

"Jangan pernah berhenti belajar, karena hidup tak pernah berhenti mengajarkan."


EmoticonEmoticon