27 Okt 2019

Refleksi Milenial di Hari Sumpah Pemuda



Refleksi Milenial di Hari Sumpah Pemuda - 28 Oktober 1928, pemuda Indonesia bersatu merumuskan sebuah sumpah yang harus terus kita jaga sampai saat ini. Para pemuda, kala itu menjadi lokomotif utama dalam merebut kemerdekaan Indonesia. Sebuah warisan sikap dan tanggung jawab yang harus terus ditanamkan dalam hati, perkataan, dan perbuatan generasi muda saat ini. Sebuah warisan perjuangan yang tidak mudah untuk dijaga.


 “Perjuanganku lebih mudah karena melawan penjajah. Tapi perjuangan kalian akan lebih berat, karena melawan saudara sendiri,” ungkap Soekarno. Benar sekali, masa milenial, musuh kita bukan lagi kolonialisme dan imperalisme, perjuangan kita bukan lagi merebut kemerdekaan dari tangan penjajah. Namun, musuh kita saat ini adalah diri kita sendiri.

Saat ini, mungkin sedikit dari kita yang memahami makna sumpah pemuda. Arus globalisasi membawa pengaruh yang tidak sedikit bagi generasi muda, atau yang akrab disebut milenial. Memang tidak sepenuhnya negatif, namun pengaruh tersebut jika terus dibiarkan akan menjadi benalu dan mengakar pada jiwa dan diri generasi muda.

Seiring arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang pesat, semakin kencang pula tantangan bagi generasi milenial untuk merawat semangat sumpah pemuda. Kita mungkin merindukan semangat perjuangan generasi muda terdahulu, yang rela meninggalkan kesenangan duniawinya untuk kepentingan bangsa dan negara. Sebuah semangat yang dituangkan dalam pemikiran dan tindakan visioner.

Namun, apa boleh dikata, saat ini kita banyak menemui pemuda yang cenderung pasif, apatis, dan pragmatis akan berbagai realitas sosial disekelilingnya. Mereka disibukan dengan sosial media dan gadget untuk sekedar mencari eksistensi, bahkan tidak sedikit dari mereka yang terjebak dalam budaya hedon.

Belum lagi mereka yang terjebak dalam pusaran krisis multidimensi. Penggunaan narkoba, seks bebas, kekerasan, kenakalan remaja, hingga penggangguran tidak terlepas dari generasi muda. Sebut saja, fakta yang diungkapkan oleh Badan Narkotika Nasional (BNN) mengatakan penggunaan narkoba di generasi muda atau milenial naik hingga 28 persen, dari tahun sebelumnya yang berada pada angka 20%. Selain itu, kita juga harus berkaca pada Data Go Dok: 68% remaja Indonesia rentan perilaku seks bebas.

Kenakalan yang melibatkan remaja dan menyeret mereka pada kasus hukum juga cukup tinggi. Pada tahun 2018, data KPAI menyebutkan bahwa ada 504 kasus anak jadi pelaku pidana. Dalam kasus ABH, kebanyakan anak masuk Lembaga Pemasyarakatan Khusus Anak (LPKA) karena mencuri sebanyak 23,9 persen. Selanjutnya, kasus narkoba 17,8 persen, kasus asusila 13,2 persen dan lainnya.
Penggangguran juga masih menjadi problematika bagi milenial. Berdasarkan data BPS jika diklasifikasikan berdasarkan kelompok umur, tingkat pengangguran terbuka dari masyarakat berusia 15-19 tahun mencapai 26,67%. Ada 16,73% penganggur yang berusia 20-24 tahun. Penganggur berusia 25-29 tahun mencapai 6,99%. Jika ditotal, maka penganggur terbuka berusia 15-29 tahun sebanyak 50,39%. Apabila dipersempit, maka persentase penganggur terbuka di rentang usia 15-24 tahun adalah 43,4%.

Data-data diatas bukan untuk membangun pesimisme, namun sebaliknya untuk membangun optimisme kita bersama. Merefleksikan diri bahwa kita layak menjadi pemegang estafet pembangunan, kepemimpinan, dan perubahan bangsa ini. Kemudian, memantaskan diri untuk menjadi pendobrak berbagai permasalahan bangsa, menjadi inovator muda pengerak kemajuan, dan generasi muda yang memiliki kontribusi besar untuk bangsa dan negeri ini. Tidak mudah memang, tapi harus kita coba.

Generasi milenial harus berani berinovasi. Kita memiliki kelebihan sangat erat dengan kemajuan teknologi. Hal tersebut memiliki potensi besar menjadi penggerak pembangunan dan perubahan bangsa ini. Semangat sumpah pemuda, pernah menyatukan mereka yang berasal dari berbagai wilayah yang berbeda untuk berjuang bersama mewujudkan kemerdekaan Indonesia. Tauladan tersebut dapat diimplementasikan para milenial dengan terus menggali potensi daerahnya masing-masing untuk kemajuan baik didaerahnya ataupun kemajuan bangsa.

Selanjutnya, sebagai kader pemimpin dimasa depan, milenial harus membuka segala potensi diri yang ada. Teruslah belajar, itu kuncinya. Mudahnya arus informasi, mudahnya akses belajar, harus dimanfaatkan untuk terus mengasah diri. Menjadi intelektual yang dewasa dalam menyikapi realitas sosial bukanlah angan-angan jika generasi muda mau berkomitmen untuk terus berlatih menjadi pemimpin dimasa depan.

Dalam hal lain, milenial harus mengasah dirinya untuk dapat bermanfaat bagi sesama. Harus mulai sadar akan kelemahan diri yang harus diperbaiki, dan potensi diri yang harus dikembangkan. Kita harus terus membangun jiwa kompetitif dan inovatif karena diluar sana banyak pemuda yang tidak kalah hebat dari kita.

Sebenarnya kita tidak kehabisan contoh para milenial sukses saat ini, sebut saja Nadiem Makarim sang founder Gojek yang saat ini didapuk sebagai Mendikbud-dikti, Achmad Zaky CEO Bukalapak, Ferry Unardi Co-Founder dan CEO Traveloka, Muhammad Alfatih Timur Co-Founder & CEO Kitabisa.com, William Tanuwijaya Co-Founder dan CEO Tokopedia, dan masih banyak lagi. Mereka semua tauladan dan telah membuktikan bahwa sesungguhnya semangat sumpah pemuda masih terus bergelora dihati para generasi muda Indonesia.

Terakhir, 91 tahun pasca peristiwa sumpah pemuda semangat gelora perjuangan jangan pernah kita padamkan. Nyala itu harus terus tertanam didalam jiwa kita para milenial. Kita memegang kunci kemajuan bangsa, jangan kita sia-siakan kesempatan itu. Refeleksikan semua permasalahan yang ada, mari bergerak bersama, berpikir, dan bekerja solutif. Bukan pasrah dan memperkeruh keadaan. Kalau bukan sekarang kapan lagi, kalau bukan kita siapa lagi.


“Perjuanganku lebih mudah karena melawan penjajah. Tapi perjuangan kalian akan lebih berat, karena melawan saudara sendiri,” - Soekarno.

Artikel Terkait

"Jangan pernah berhenti belajar, karena hidup tak pernah berhenti mengajarkan."


EmoticonEmoticon