30 Apr 2019

Hari Buruh, Mari Belajar dari Anak Muda Bernama Marsinah



1 Mei, sebuah peringatan yang sakral bagi para kaum buruh. Hari yang dikenal sebagai kebangkitan para buruh dalam memperjuangkan hak-haknya. Para millenial mungkin lebih banyak mengenalnya dengan istilah May Day.
Peristiwa yang pertama diperingati pada abad ke – 19 untuk mengenang perjuangan para buruh yang menjadi korban dalam peristiwa di Haymarket Amerika Serikat.

Di Indonesia, peringatan May Day juga pernah digelar sebelum kemerdekaan yakni pada tahun 1920. Peringatan ini dilaksanakan rakyat Indonesia sebagai bentuk solidaritas mendukung perjuangan kaum buruh dalam penyamaan hak dan upah. Kemudian, dalam perjalanannya peringatan hari buruh internasional pun sempat dianggap sebagai kegiatan Ilegal di Indonesia pada masa rejim orde baru. Sampai akhirnya, tahun 2013 dimasa kepimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Hari Buruh kembali diperingati di Indonesia dan ditetapkan sebagai hari libur nasional.

Menyoal hari buruh, mari kita belajar dari perjuangan sosok anak muda bernama Marsinah. Wanita hebat yang lahir di Desa Nglundo, Nganjuk, Jawa Timur. Ia, meninggal dalam usia yang sangat muda. Pada usia 24 tahun, Mayatnya ditemukan di hutan di dusun Jegong, desa Wilangan dengan tanda-tanda bekas penyiksaan berat.

Ia meninggal, tidak sia-sia. Marsinah dikenal sebagai seorang Pejuang HAM dan Penggerak Buruh Indonesia. Seorang organisator dan intelektual yang lebih memilih mengorbankan jiwa raganya untuk memperjuangkan hak-hak kaum buruh. Ketika mungkin, anak muda seusianya lebih memilih mejeng, nongkrong, dan bahkan anti sosial. Ia memilih jalan terjal dan berbeda.

Marsinah, memilih keluar dari zona nyaman anak muda, memperjuangkan khalayak umum. Ia, berpegang teguh pada idealisme dan melawan bentuk-bentuk penindasan hak kaum buruh. Pada waktu itu, di awal tahun 1993, ketika pemerintah telah mengeluarkan surat edaran Gubernur Jawa Timur No. 50/Th. 1992 tentang himbauan kepada pengusaha untuk menaikkan kesejahteraan karyawannya dengan kenaikan gaji sebesar 20% gaji pokok. Namun, sayangnya banyak perusahaan yang tak mematuhi, termasuk CPS, tempat ia bekerja.

Pemahaman yang mumpuni, dan sikap sosial yang tinggi, tidak membuatnya tinggal diam. Bahkan, ia vokal dan berani menyuarakan kebenaran yang ia junjung tinggi, menuntut perusahaan untuk memenuhi hak-haknya. Nahas memang, perjuangannya harus dibayar dengan nyawa. Mungkin jika masih hidup, sekarang ia bisa menjadi salah satu tokoh dan aset wanita hebat Indonesia.

Belajar dari seorang Marsinah tentu tidak sebatas tentang aksinya yang luar biasa dalam memperjuangkan kaum buruh. Ia juga dikenal sebagai pembelajar yang patut kita teladani. Meskipun, bekerja sebagai buruh ia memiliki semangat yang tinggi dalam belajar. Disela-sela waktu, ia belajar Bahasa Inggris dan Les Komputer. Semua itu, ia lakukan dengan harapan bisa menularkannya pada buruh yang lain. Nampaknya, anak muda jaman now harus betul-betul belajar dari beliau, tentang makna bermanfaat bagi sesama dan semangat belajar.

Luar biasa memang jika meneladani seorang Marsinah. Tokoh yang amat berani menghadapi intimidasi. Bahkan, ia mengajarkan kita bagaimana anak muda jangan mudah menyerah menghadapi berbagai tantangan, serta terus berpegang pada idealisme.

Pamungkas, hey anak muda, mari belajar dari Marsinah, belajar peduli, belajar berani memegang prinsip, belajar berjuang sampai titik penghabisan, dan belajar bermanfaat bagi sesama. Mau kapan? Ya, mulai dari sekarang!


Marsinah adalah sebuah cermin perlawanan buruh dalam bibit tumbuhnya gerakan buruh. – Munir (Aktivis HAM Indonesia 1965-2004)

Artikel Terkait

"Jangan pernah berhenti belajar, karena hidup tak pernah berhenti mengajarkan."


EmoticonEmoticon